Pentingnya Resiliensi dalam Keluarga dengan Disabilitas

Apakah Anda tahu apa itu resiliensi di dalam sebuah keluarga?
Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk pulih dari krisis dan tantangan yang dihadapi dalam kehidupan. Resiliensi membantu individu bangkit kembali setelah jatuh. Tidak hanya individu, tetapi juga keluarga saat ini memiliki pengalaman yang sangat signifikan karena berbagai alasan.
Keluarga adalah suatu sistem yang mengandung beberapa hubungan yang beroperasi dengan cara yang unik, pengertian keluarga menekankan bahwa hakikat keluarga adalah hubungan yang terjalin antar individu yang mendefinisikan komponen-komponennya. Jika terjadi atau dialami oleh salah satu anggota keluarga, maka anggota keluarga yang lain akan merasa cemas dan dampaknya akan menjalar ke seluruh anggota keluarga.
Mengapa keluarga sangat berperan penting di dalam resiliensi keluarga?
Resiliensi keluarga adalah bagaimana anggota keluarga saling mendukung ketika muncul masalah dalam keluarga. Resiliensi keluarga merupakan fakta unik bahwa ketika keluarga terkoyak oleh krisis, beberapa keluarga justru menjadi lebih kuat. Para peneliti kemudian berfokus pada bagaimana sebuah keluarga dapat tetap aktif dan menjadi tangguh, di tengah segudang masalah yang melanda. Salah satu yang kerap terjadi adalah adanya krisis pada keluarga dengan anggota keluarga disabilitas.
Terdapat beberapa fenomena terjadi pada keluarga dengan disabilitas, menyebabkan keluarga diharuskan untuk mampu bertahan dan bangkit dalam mengatasi setiap permasalahan yang terjadi, yang disebut dengan resiliensi. Ketika salah satu anggota keluarga memiliki masalah kesehatan, keluarga harus mencari solusi yang tepat untuk perkembangan anggota keluarga mereka. Walaupun tidak mudah dijalani, keluarga dapat resilien dengan perlahan.
Cara meningkatkan resiliensi keluarga pada keluarga yang memiliki anggota keluarga disabilitas
Lalu, bagaimana langkah awal memulai resiliensi keluarga pada keluarga yang memiliki anggota keluarga disabilitas?
- Mengendalikan Emosi
Dalam membangun resiliensi yang semula rendah, keluarga dapat mengendalikan emosi dalam masing-masing individu, dengan mengubah pola pikir ataupun perilaku selama menghadapi kesulitan yang terjadi dalam keluarga. Selain dapat meningkatkan kesehatan psikologisnya, individu dapat dengan tenang menghadapi permasalahan yang terjadi. Selain itu, keluarga dapat lebih bersyukur, sehingga dapat meningkatkan emosi yang positif, mengendalikan marah, terhindar dari depresi dan meningkatkan ketenangan hati.
- Komunikasi
Keluarga dengan komunikasi yang terbuka, akan lebih mudah menyelesaikan suatu masalah dengan mudah. Hal ini dapat disesuaikan dengan anggota keluarga yang disabilitas. Seperti, apabila pasien tunarungu, maka keluarga dapat belajar berkomunikasi dengan bahasa isyarat, dan lain sebagainya. Selain mempermudah komunikasi antar anggota keluarga, pasien dapat dengan nyaman berkomunikasi terbuka pada keluarganya. Maka dari itu dengan terus mempertahankan komunikasi yang baik, terbuka akan segala perasaan dan pikiran kepada anggota keluarga, dan lain sebagainya. Keluarga juga dapat menghadapi dan melewati kesulitan dengan lebih baik lagi tanpa harus mengalami kecemasan, stress maupun depresi, atau setidaknya dapat menekan perasaan tertekan yang dapat tumbuh ketika menghadapi hambatan-hambatan dalam menjalani kehidupan.
- Adaptasi
Tentunya dengan memiliki anggota keluarga dengan gangguan disabilitas, keluarga tidak mudah dalam menghadapi beberapa cobaan yang terjadi. Terdapat beberapa kondisi afektif awal ketika keluarga mendapatkan diagnosa, seperti adanya perasaan sedih, kecewa, bahkan tidak menerima takdir dan menyalahkan diri sendiri. Biasanya kondisi ini membuat munculnya keputusasaan muncul dalam keluarga. Hal yang dapat dilakukan adalah beradaptasi secara perlahan dengan situasi yang ada. Seiring dengan proses adaptasi keluarga pada kondisi yang ada, keluarga akan perlahan mencari solusi untuk pemulihan anggota keluarga mereka daripada memikirkan beban psikologis yang dibawa.
- Mencari Solusi
Menghadapi berbagai macam kejanggalan dan perilaku-perilaku yang berbeda dengan anak-anak normal lainnya, orang tua anak disabilitas berusaha mencari solusi dan berbagai informasi mengenai penyimpangan anggota keluarga, selain itu dengan menjalankan berbagai upaya seperti membawanya ke dokter. Selain pergi ke berbagai dokter, orang tua juga berupaya mencari solusi lainnya yaitu dengan membaca berbagai literatur yang berkaitan dengan penyimpangan perkembangan anggota keluarga.
- Dukungan Sosial
Dalam proses penyesuaian dan pencarian solusi bagi anak disabilitas, keluarga sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Dukungan sosial ini sangat berarti bagi keluarga dengan disabilitas, karena beratnya beban yang harus mereka tanggung. Hal ini dapat membantu mereka untuk tetap kuat dalam menerima cobaan, bengkit dari keterpurukan dan ketidakberdayaan menuju kondisi yang lebih stabil, meskipun memang kekuatan dari dalam dirilah yang lebih dominan membuat mereka bisa bertahan. Maka dari itu, keluarga dapat membangun hubungan sosial yang baik hingga dapat melibatkan diri dengan komunitas tertentu untuk mempermudah keluarga dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah.
Daftar Pustaka:
Day, R. D. (2010), Introduction to Family Process (5th Edition). Routledge.
Herdiana, I. (2019). Resiliensi keluarga: Teori, aplikasi dan riset. Proceeding National Conference Psikologi UMG, 1-12. https://doi.org/10.30587/psikosains.v14i1.889
Muniroh, S. M. (2012). Dinamika resiliensi orang tua anak autis. Jurnal Penelitian, 7(2). https://doi.org/10.28918/jupe.v7i2.112
Walsh, F. (2015). Strengthening family resilience (3rd Ed.). Guilford Publications.
Penulis: Aldona Annisa Rohma, Vio Angelina Ongkowiyono, Samuel Kristian, Devita Wulandari, Martha Ayu Cintia
Sumber Gambar: https://unsplash.com/photos/FHiJWoBodrs
Others
- Photovoice: From Introduction to Publication 2026 April 30, 2026
- Dekat Secara Fisik, Jauh Secara Emosi: Ketika Keluarga Tidak Lagi Terasa “Rumah” April 30, 2026
- Photovoice: Best Practice on Data Analysis and Publication January 24, 2026
- Prepare/Enrich Certified Facilitator Training & Case Study 2026 January 24, 2026
- Mengapa Gen Z cenderung tidak tertarik menikah? September 1, 2025

