Pentingnya Saling Memaafkan dalam Relasi Pernikahan

Memaafkan adalah hal yang penting dalam berelasi. Memaafkan orang lain meningkatkan well-being dan membantu kita mengatasi rasa sakit yang mungkin kita alami setiap hari (Gordon, Baucom & Snyder, 2005). Tidak hanya itu, memaafkan juga berdampak positif pada relasi kita dengan orang lain, termasuk dengan pasangan (Finchman & Beach, 2002). Beberapa penelitian (dalam Fincham & Beach, 2002) menemukan bagaimana memaafkan menyurutkan kemarahan dan kesedihan (kekecewaan) kita pada pasangan saat mereka melakukan kesalahan. Hal ini membuka kemungkinan kita untuk kembali merestorasi hubungan dengan mereka (Fincham & Beach, 2002), mendukung keawetan dan kepuasan pernikahan (Fenell, 1993).

Memaafkan, menurut Fincham dkk. (2006), tidak harus selalu dalam arti religius, melupakan, atau menerima saja kesalahan dari pasangan. Penekanan dari memaafkan adalah bagaimana kita bisa memiliki itikad baik pada orang yang melukai (Holmgren, 1993) bahkan saat situasinya sangat tidak baik untuk kita (Fincham & Beach, 2002).

Dalam penerapannya, maaf adalah hal yang sangat mungkin kita berikan bahkan ketika kita sedang dalam kondisi terluka. Memaafkan dapat terjadi jika kita tidak memiliki motivasi negatif (seperti balas dendam, memberikan label negatif pada pasangan, dll) dan berfokus pada motivasi positif yang ditujukan pada orang yang melukai. Saat kita marah dan memiliki motivasi negatif, kita akan cenderung dibutakan dengan perspektif yang subjektif dan cenderung hanya menyalahkan pasangan. Karena itu, dalam relasi dengan pasangan, mengurangi motivasi negatif menjadi langkah awal yang penting untuk dilakukan jika pasangan ingin mencari penyelesaian yang efektif bersama (Finchman & Beach, 2002).

Bagian yang paling sulit dari memaafkan adalah karena saat kita dilukai, kita merasa bahwa pasangan yang melukai kita tidak layak untuk mendapatkan pengampunan dan kita berhak untuk tidak memberikannya. Saat relasi kita dengan pasangan sedang tidak baik, penting bagi kita untuk bisa melihat bahwa bahwa apa yang sudah dan akan kita bangun melalui relasi dengan pasangan layak untuk diperjuangkan. Untuk itu, selain mengurangi motivasi negatif, kita juga juga memerlukan motivasi positif agar memaafkan bisa menjadi faktor yang membangun hubungan. Motivasi positif tersebut adalah cinta, pemulihan hubungan, dan kesejahteraan pasangan. Motivasi positif mendorong kita untuk melandasi reaksi kita dengan cinta dan mengarahkan kita untuk berfokus pada diskusi yang menyelesaikan masalah dan tidak mengedepankan ego.

Memaafkan adalah proses yang tidak instan. Fincham, Paleari, dan Regalia (2002) mengatakan bahwa kualitas pernikahan, empati, dan kemampuan untuk menemukan penyebab perilaku menyakitkan sangat penting untuk menentukan apakah seseorang akan memaafkan atau tidak. Saat pasangan puas dengan kualitas pernikahan mereka, pasangan akan merasa nyaman dalam relasi mereka, yang kemudian akan meningkatkan kemampuan masing-masing individu untuk menginterpretasi pergesekan dalam pernikahan secara positif, mengidentifikasi emosi dari pasangan yang melukai, dan kemudian bisa memaafkan mereka.

Meskipun kualitas pernikahan adalah titik awal dari proses memaafkan, yang menjadi kunci penting dari proses ini adalah empati dan kemampuan untuk mencari tahu mengapa pasangan menyakiti. Dengan empati, kita dapat mengetahui apa yang sebenarnya pasangan kita rasakan dan alami. Ketika seseorang dengan atau tidak sengaja menyakiti kita, terkadang ada “lapisan-lapisan” emosi, kebutuhan, dan mungkin rasa sakit yang menyebabkan pasangan kita menyakiti kita. Hal ini membuat permasalahan dalam konflik menjadi lebih jelas dan pasangan dapat sama-sama menyusun strategi yang efektif untuk pemulihan hubungan.

Referensi
  • Fenell, D. (1993). Characteristic of long-term first marriage. Journal of Mental Health Counseling, 15(4), 446-460.
  • Fincham, F. D., & Beach, S. R. (2002). Forgiveness in marriage: Implications for psychological aggression and constructive communication. Personal Relationships, 9(3), 239-251.
  • Fincham, F. D., Hall, J., & Beach, S. R. (2006). Forgiveness in marriage: Current status and future directions. Family Relations, 55(4), 415-427.
  • Gordon, K. C., Baucom, D. H., & Snyder, D. K. (2005). Treating couples recovering from infidelity: An integrative approach. Journal of clinical psychology, 61(11), 1393-1405.
  • Holmgren, M. R. (1993). Forgiveness and the intrinsic value of persons. American Philosophical Quarterly, 30(4), 341-352.

Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: People photo created by bearfotos – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed