Penyesuaian Diri dengan Pasangan
Apa pentingnya masa pacaran? Banyak orang berpikiran bahwa masa pacaran adalah masa yang penting untuk lebih mengenal dan menyesuaikan diri dengan pasangan. Diri kita dan pasangan kita adalah orang yang berbeda, yang mungkin berasal dari latar belakang yang berbeda seperti latar belakang suku, budaya, agama, status sosial-ekonomi dan lain-lain. Semakin berbeda, maka akan semakin besar usaha kita untuk dapat menyesuaikan diri dengan pasangan. Proses pengenalan dan penyesuaian diri sebaiknya dilakukan sebelum pernikahan dan lebih baik jika sudah belajar menyesuaikan diri sejak pacaran. Penyesuaian diri ini penting agar pasangan bisa lebih mengenal satu sama lain dan nantinya bisa beradaptasi dengan perbedaan yang ada. Dengan demikian pasangan dapat menghindari konflik-konflik yang mungkin terjadi karena adanya perbedaan. McGoldrick et al (dalam Olson, 2011) menyatakan bahwa terdapat 8 faktor yang mempengaruhi derajat penyesuaian diri:
- Value (nilai)
Setiap individu mungkin memiliki value yang berbeda-beda yang telah mereka pelajari sepanjang masa hidup mereka. Value ini mungkin berasal dari latar belakang budaya, agama dan sebagainya. Semakin memiliki value yang berbeda, maka pasangan akan semakin sulit untuk menyesuaikan diri satu sama lain.
- Acculturation (akulturasi)
Akulturasi merupakan proses saat individu berusaha menyesuaikan diri dengan budaya lain (misalnya budaya pasangan) namun tetap mempertahankan budayanya sendiri. Semakin besar tingkat akulturasi yang dibutuhkan individu, maka semakin besar kemungkinan terjadinya konflik pada pasangan tersebut.
- Religion (agama)
Memiliki kepercayaan atau agama yang berbeda dengan pasangan dapat menambah kesulitan dalam menyesuaikan diri dibandingkan dengan memiliki kepercayaan yang sama dengan pasangan.
- Race (ras)
Menurut penelitian, pasangan dengan ras yang berbeda lebih rentan mengalami konflik dibandingkan pasangan dengan ras yang sama. Hal ini dapat terjadi karena masing-masing individu terkadang merasa terisolasi dari kelompok pasangannya. Hal ini juga bahkan dapat dirasakan oleh anak-anak dari pernikahan beda ras.
- Sex and sex roles (jenis kelamin dan perannya)
Perempuan biasanya cenderung lebih mudah untuk menceritakan perasaannya. Hal ini akan membuat perempuan kesulitan jika pasangannya adalah tipe laki-laki yang tidak banyak bicara sehingga masing-masing individu perlu untuk berusaha menyesuaikan diri dengan pasangan.
- Socioeconomic differences (perbedaan sosial ekonomi)
Pasangan yang memiliki status sosial ekonomi yang berbeda cenderung dapat mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri. Hal ini mungkin terjadi karena adanya ekspektasi yang lebih tinggi pada pasangannya. Sebagai contoh perempuan yang berasal dari keluarga yang mapan menikah dengan laki-laki kurang mapan. Perempuan tersebut mungkin saja memiliki ekspektasi tinggi pada pasangannya sehingga hal ini dapat memicu konflik.
- Cultural Familiarity (pengenalan akan budaya lain)
Individu yang sudah familiar dan sering bersosialisasi dengan budaya yang berbeda akan lebih mudah menyesuaikan diri jika nantinya ia memilki pasangan dari latar belakang yang berbeda.
- Extended-family Agreement (persetujuan keluarga)
Individu yang memiliki keluarga yang suportif dan mampu menerima perbedaan, akan lebih mudah untuk menyesuaikan diri dengan pasangan dari latar belakang yang berbeda, sedangkan jika ada penolakan dari keluarga, maka pasangan akan semakin kesulitan menyesuaikan diri dan memungkinkan terjadinya konflik di kemudian dari.
Penjelasan di atas merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesulitan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan pasangannya yang memiliki latar belakang yang berbeda, namun hal ini tidak bersifat mutlak. Bukan berarti pasangan dari latar belakang yang berbeda akan mengalami masalah dalam menyesuaikan diri dibandingkan dengan pasangan dari latar belakang yang sama. Keberhasilan dalam menyesuaikan diri kembali lagi pada seberapa besar usaha yang dilakukan oleh masing-masing individu untuk mau beradaptasi dengan pasangannya.
Referensi
- Olson, D.H., DeFrain, J., Skogrand, L. (2011). Marriages and Families: Intimacy, Diversity and Strength. New York: Mc-Graw Hill.
Ditulis oleh: Novensia Wongpy, S.Psi., M.Psi., Psikolog
Sumber gambar: People vector created by freepik – www.freepik.com
Others
- Photovoice: From Introduction to Publication 2026 April 30, 2026
- Dekat Secara Fisik, Jauh Secara Emosi: Ketika Keluarga Tidak Lagi Terasa “Rumah” April 30, 2026
- Photovoice: Best Practice on Data Analysis and Publication January 24, 2026
- Prepare/Enrich Certified Facilitator Training & Case Study 2026 January 24, 2026
- Mengapa Gen Z cenderung tidak tertarik menikah? September 1, 2025

