Pernikahanku Tidak Sama Lagi Setelah Memiliki Anak
Sebagian besar dari pasangan yang menikah berharap memiliki buah hati untuk melengkapi kebahagiaannya. Bahkan dalam budaya kita, anak tidak saja diharapkan oleh pasangan yang menikah, tetapi juga oleh keluarga besar pasangan dan bahkan masyarakat sekitar. Pada kenyataannya, memiliki anak tidak sesederhana yang dibayangkan oleh pasangan baru yang belum pernah memiliki anak. Chapman (2007) mengungkapkan bahwa 18 bulan pertama usia anak adalah masa-masa yang berat bagi pasangan suami istri. Dalam masa-masa ini seringkali istri merasa terisolasi dan kewalahan. Muncul pula perasaan-perasaan bahwa suami sudah tidak mengingikan dirinya dan tidak mengapresiasi usahanya dalam membesarkan anak. Dari sudut pandang suami juga mengalami tekanan tersendiri. Seringkali suami dalam masa-masa ini merasa diabaikan oleh pasangannya, tidak dihargai dan merasa tidak penting lagi. Suami bisa saja merasa tidak lagi menjadi nomor satu di mata istrinya, karena posisi itu sudah diambil oleh sang anak.
Bagi pasangan suami istri, memiliki anak adalah sebuah dinamika kehidupan baru dengan potensi-potensi konflik baru juga. Memiliki anak berarti menambah pekerjaan-pekerjaan baru. Siapa yang mengerjakan, suami atau istri ? Memiliki anak berarti akan menghabiskan lebih banyak waktu. Waktu siapa, suami atau istri? Memiliki anak akan menguras lebih banyak energi. Energi siapa, suami atau istri? Memiliki anak berarti akan menghabiskan lebih banyak uang. Alokasi uang yang mana yang akan digunakan, alokasi uang untuk makan di restoran atau uang untuk hiburan dan liburan? Dalam penelitiannya Olson dkk (2012) mengungkapkan bahwa 82% pasangan memiliki masalah terkait dengan pengasuhan anak dan berdampak pada menurunnya kepuasan pernikahannya. Karena itu, sebaiknya dipikirkan secara matang sebelum memutuskan untuk memiliki anak dan jangan memutuskan hanya karena tekanan sosial semata.
Dalam masyarakat, muncul beberapa mitos mengenai anak yang mungkin bisa saja berkebalikan dengan kenyataan. Mitos ini bahaya ketika menjadi believe dalam relasi pernikahan dan menjadi ekspektasi pasangan, sehingga ketika ekspektasi itu tidak sesuai dengan kenyataan, maka stress dan ketegangan relasi akan muncul. Berikut adalah contoh-contoh mitos terkait dengan pengasuhan anak.
- Mengasuh anak bukan urusan yang serius tetapi sesuatu yang menyenangkan
Memang mengasuh anak adalah hal yang menyenangkan, tetapi realitasnya mengasuh anak juga adalah pekerjaan tanpa pamrih dengan tuntutan yang sangat besar. Pasangan perlu upaya secara sadar sebagai orangtua agar tidak muncul perasaan tidak suka menjadi orang tua lalu bisa jadi sampai tidak menyukai anak dan menimbulkan konflik baru dengan pasangan
- Anak akan menjadi baik ketika memiliki orang tua yang baik juga
Orang tua memang faktor yang penting dalam perkembangan anak, tetapi kenyataannya, orang tua hanyalah salah satu faktor pengaruh dari faktor yang lainnya seperti saudara kandung, sekolah, sosial media, dan teman seangkatan dari anak. Tujuan utama pengasuhan adalah menanamkan nilai-nilai yang akan digunakan anak dalam menghadapi dunia tetapi tetap saja bukan jaminan. Karena itu pengasuhan yang intentional dan kekompakan diantara pasangan terkait dengan bagaimana mengasuh anak sangat penting.
- Anak-anak itu manis dan lucu
Anak-anak memang manis dan lucu, tetapi anak-anak juga bisa menjadi egois, destruktif, dan luar biasa aktif. Harus disadari anak-anak adalah seperti manusia pada umumnya, memiliki sisi positif dan sisi negatif. Orang tua yang tidak memiliki pandangan ini bisa jadi menjadi cepat lelah ketika menghadapi anak.
- Anak akan memperbaiki relasi pernikahan
Bisa jadi seperti itu, anak akan memperkuat ikatan sebagai suami istri, tetapi harus disadari memiliki anak juga akan menguras energi sehingga mengurangi intimasi dari pasangan karena energi lebih terkuras untuk mengasuh anak.
- Cinta merupakan modal yang cukup untuk mengasuh anak
Cinta memang merupakan modal yang bagus dalam mengasuh anak, tetapi sebagai orangtua dan pasangan, kita harus terus meningkatkan kemampuan dan pengetahuan terkait dengan pengasuhan anak.
Pada intinya, memiliki anak bukanlah sebuah hal yang sederhana. Faktanya mengasuh anak adalah kerjasama antara suami dan istri dimana membutuhkan komunikasi, pemahaman, cinta, dan kesediaan untuk kompromi. Hal-hal itu harus ada sebelum pasangan memiliki anak, karena hal-hal itu tidak akan muncul begitu saja seiring dengan kehadiran anak. Sebaliknya jika komitmen itu tidak ada selama pernikahan dan memiliki anak, maka yang terjadi adalah erosi intimasi, kurangnya quality time, ekspresi cinta dan komunikasi.
Jangan mengharapkan ketika memiliki anak, maka relasi pernikahan akan semakin baik. Memperbaiki hubungan pernikahan bukan tanggung jawab dari anak. Anak tidak diciptakan untuk memperbaiki pernikahan, tidak juga untuk merusak pernikahan. Saat ada hubungan pernikahan yang perlahan-lahan hancur setelah memiliki anak, hal ini tidak disebabkan oleh keberadaan anak. Kehadiran anak memang berpotensi untuk memunculkan permasalahan dalam hubungan pernikahan, namun perlu diperhatikan bahwa masalah yang muncul hanyalah masalah yang memang sudah ada sejak sebelum keberadaaan anak dalam keluarga.
Berita baiknya, kesuksesan mengasuh anak bersama pasangan membuat kita bisa menjadi pasangan suami istri yang bahagia dan menjadi orang tua yang sukses diwaktu bersamaan.
Chapman (2007) mengungkapkan ada beberapa tips untuk bisa menjadi pasangan suami istri yang bahagia dan menjadi orang tua yang sukses diwaktu bersamaan.
- Menjadikan pernikahan Anda sebagai prioritas
Lingkungan paling baik untuk anak bertumbuh dan berkembang adalah lingkungan yang diciptakan oleh suami istri yang saling berkomitment sepanjang hidupnya. Setiap anak akan memberikan dinamika baru dalam keluarga. Jadi ada baiknya dalam suatu waktu mengambil istirahat sejenak untuk mengevaluasi relasi pernikahan Anda, setelah itu baru secara sadar mengambil pilihan yang bermanfaat untuk Anak , untuk pernikahan anda, dan untuk diri Anda
- Kelola jadwal Anda
Beberapa isu utama dalam rumah tangga adalah pembagian beban kerja dalam keluarga, jumlah waktu yang dihabiskan bersama, relasi seksual, waktu untuk sendiri, komunikasi dan berbagai hal lainnya. Hal-hal itu bisa ditangani dengan mengatur jadwal dengan baik. Kontrol jadwal berarti secara sadar, dan dengan persetujuan pasangan, mengatur siapa mengerjakan apa, kapan harus selesai dan mencari solusi untuk permasalahan yang muncul. Mengatur jadwal dalam keluarga akan membentuk pola tertentu, dan pola yang baik merupakan hal yang sehat dalam relasi pernikahan.
- Kelola keuangan Anda
Permasalaan keuangan dalam pernikahan terjadi karena pasangan tidak mengintegrasikan pernikahan dengan keuangan. Beberapa menabung dengan sangat ketat untuk membeli asset yang diinginkan, atau sebaliknya ada juga yang menghabiskan uang tanpa perencanaan. Kunci utamannya adalah gunakan uang Anda diarea yang Anda dan pasangan prioritaskan. Jika relasi pernikahan adalah prioritas, tidak salah jika uang dialokasikan untuk makan malam bersama dan hal-hal romantis. Jika hanya menabung untuk membeli rumah tanpa memikirkan relasi, maka bisa jadi rumah itu terbeli tetapi tidak lebih dari bangunan tanpa kehangatan.
- Kompak dan terus belajar untuk mendisiplinkan serta mengasuh anak secara efektif
Salah satu permasalahan utama dalam pernikahan dalah bagaimana cara mengasuh anak. Salah satu menganggap pasangannya terlalu sabar sebaliknya salah satu menganggap pasangannya terlalu keras. Cara mendisiplin dan mengasuh anak harus dibicarakan dan disepakati oleh pasangan sehingga menjadi masuk akal jika relasi pernikahan adalah modal utama untuk diskusi itu terjadi. Harus dipastikan relasi suami istri bisa menjadi referensi positif untuk anak dirumah.
- Temukan kunci untuk intimasi Anda
Harus disadari intimasi pada relasi Anda harus diupayakan dan tidak bersifat statis. Tingkat intimasi kita akan menentukan bagaimana kita akan berperilaku ke satu sama lain. Kehadiran anak bisa saja merampas intimasi ini, sehingga anda perlu strategi untuk tetap menghadirkan intimasi dalam relasi pernikahan Anda
Referensi
- Chapman, G. (2007). Now what ? the chapman guide to marriage after children. United States of America: Tyndale.
- Olson, D. H., DeFrain, J., & Skogrand, L. (2011). Marriage and families intimacy, diversity, and strengths. New York: The McGraw-Hill Companies, Inc., .
Ditulis oleh: Ersa Lanang Sanjaya, S.Psi., M.Si.
Sumber gambar: Baby vector created by macrovector – www.freepik.com
Others
- Photovoice: From Introduction to Publication 2026 April 30, 2026
- Dekat Secara Fisik, Jauh Secara Emosi: Ketika Keluarga Tidak Lagi Terasa “Rumah” April 30, 2026
- Photovoice: Best Practice on Data Analysis and Publication January 24, 2026
- Prepare/Enrich Certified Facilitator Training & Case Study 2026 January 24, 2026
- Mengapa Gen Z cenderung tidak tertarik menikah? September 1, 2025

