Pingin Akur dengan Mertua..Bagaimana, ya, Caranya?

Hubungan antara menantu dengan orangtua pasangan adalah hubungan yang kompleks. Ketika menikah dengan anak, menantu kini menjadi bagian dari keluarga. Tapi berbeda dengan keluarga inti, menantu adalah “orang luar” yang diajak masuk ke dalam keluarga berdasarkan kesadaran. Orangtua tidak bisa memilih anak, tapi untuk menantu lain cerita. Pada prakteknya, menantu tumbuh besar dari keluarga lain yang mungkin memiliki perbedaan kebiasaan, rutinitas, prinsip, dan cara pandang. Bagi mertua, perbedaan ini seperti anomaly dalam keluarga intinya. Sedangkan bagi menantu, mungkin tidak mudah untuk menyesuaikan dengan keluarga baru.

Ada stereotipe yang mengatakan bahwa menantu perempuan dengan ibu mertua memiliki banyak ketidakcocokan. Ketidakcocokan itu bisa mengenai, tapi tidak terbatas dari, ekspektasi menu masakan, hingga pengasuhan anak (apa yang boleh dan tidak boleh anak makan) dan pengaturan rumah tangga. Masing-masing menantu dan mertua memiliki ekspektasi atau standart yang berbeda mengenai hal-hal tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Rittenour & Kellas (2015) menemukan bahwa menantu sering merasa tersakiti ketika mertua “menganggap rendah” pengalaman, kemampuan, atau orang-orang yang disayangi menantu (Misal, mertua merendahkan orangtua menantu). Tidak hanya itu, hal lain yang menjadi sensitif adalah ketika menantu tidak banyak dilibatkan di kegiatan keluarga pasangan. Disatu sisi, menantu perempuan bisa melihat ibu mertua terlalu ikut campur dalam kehidupan keluarganya.

Konflik antara istri dengan ibu mertua bisa membuat situasi rumah menjadi tidak nyaman bagi keluarga. Biasanya dalam situasi seperti itu, suami atau anak perlu turun tangan menjadi mediator dalam menyampaikan maksud keduanya. Sebagai menantu, bagaimana agar hubungan kita dengan mertua menjadi lebih baik?

  1. Membangun komunikasi yang baik. Tidak terelakkan, ini adalah kunci utama untuk membangun relasi yang baik. Komunikasi membantu “menjembatani” ekspektasi kita terhadap mertua, begitu juga sebaliknya. Ini tentu saja tidak semudah yang terlihat. Terkadang kita dan mertua sama-sama enggan untuk membicarakan pembahasan yang sensitif untuk mengurangi gesekan. Oleh sebab itu, peran pasangan sangat penting.
  2. Meminta pasangan menjadi mediator. Ketika hubungan kita dengan mertua sangat tidak baik, atau dalam beberapa topik sudah sangat tidak cocok, pasangan dapat membantu menengahi dengan menjadi mediator. Masalah dalam komunikasi biasanya ada pada kesulitan menyampaikan maksud dengan bahasa dan pemilihan kata yang tepat. Pasangan berperan sebagai orang yang mengerti keduanya, perlu untuk menjadi mediator agar ada pengertian dari kedua belah pihak.
  3. Membantu pasangan menentukan keputusan. Ketika menantu dan mertua mengalami konflik, sering kali pasangan terjepit harus menjadi orang yang mengambil keputusan. Memilih salah satu akan menyakitkan pihak yang lain sehingga pasangan merasa tidak nyaman dan akhirnya memutuskan tidak terlibat, atau tidak tegas dalam memutuskan.  Peran kita adalah membantu pasangan untuk mengambil keputusan sebagai orang ketiga. Keputusan yang diambil oleh pasangan haruslah atas kesadaran bahwa memang itu adalah keputusan yang tepat. Hindari ancaman atau merendahkan pihak lain ketika menjelaskan maksud kita.
  4. Menghindari stereotip “mertua galak”. Tanpa kita sadari, stereotip hubungan mertua-menantu mempengaruhi bagaimana kita berelasi dengan mertua kita. Ambillah ketika kita menonton sinetron atau drama korea, atau mungkin kita mendapat cerita dari teman mengenai konflik hubungannya dengan mertuanya sendiri. Stereotipe-stereotipe negatif tersebut membuat kita menjadi lebih sensitif dengan apa yang mertua lakukan. Implikasinya, kita cenderung mudah defensif, berpikir negatif, overthinking, hingga memiliki label-label tersendiri untuk mertua. Stereotipe negatif ini membuat resolusi konflik menjadi sulit. Dalam beberapa kasus, bahkan komunikasi sehari-hari bisa terhambat.
Referensi:
  • Rittenour, C. E., & Kellas, J. K. (2015). Making sense of hurtful mother-in-law messages: Applying attribution theory to the in-law triad. Communication Quarterly63(1), 62-80.
  • Rittenour, C.E.(2012). Daughter-in-law standards for mother-in-law communication: Associations with daughter-in-law perceptions of relational satisfaction and shared family identity. Journal of Family Communication, 12(2), 93-110.

Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: Baby photo created by pressfoto – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed