Resilien Saat Mengalami Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT)

Fenomena kekerasan dalam rumah tangga bukanlah hal yang asing lagi di telinga kita. Mengapa kekerasan dalam rumah tangga bisa terjadi ? Ada beberapa hal yang bisa menjadi penyebab munculnya kekerasan dalam tumah tangga, antara lain :

  1. Perilaku kekerasan dapat dipelajari melalui pengalaman masa kecil. Mengamati situasi kekerasan yang terjadi menjadi obyek pembelajaran sehingga seorang anak yang melihat tindak kekerasan akan berkembang menjadi pribadi yang keras. Tidak hanya mempelajari tindakan kekerasan tersebut, anak juga belajar tentang peran laki-laki dan perempuan yang berkontribusi pada tindak kekerasan pada saat ia dewasa (Walker, 1995)
  2. Kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan didorong oleh ketidakseimbangan kekuasaan. Pola-pola budaya patriarki membuat perempuan seringkali dianggap sebagai ‘properti’ oleh pasangannya. Hal ini memberi laki-laki justifikasi untuk memperlakukan perempuan sebagai bawahan sehingga harus menurut dan mematuhi laki-laki dalam suatu bentuk hubungan. Kesenjangan kekuasaan yang muncul dalam hubungan menjadikan laki-laki lebih berpotensi untuk menekan dan memaksakan kehendaknya terhadap perempuan, namun tidak berlaku sebaliknya (McCue, 2008).
  3. Lingkungan sosial yang bisa memicu terjadi kekerasan dalam rumah tangga, diantaranya adalah kondisi sosial-ekonomi, budaya atau kebiasaan yang berlaku, keadaan keluarga, dan kondisi eksternal lainnya (Loseke, 2005).

Kekerasan dalam rumah tangga ini juga secara spesifik memberikan dampak negatif terhadap kesehatan fisik, psikologis, dan seksual korbannya, seperti :

  1. Dampak fisik yang terlihat dari luka atau memar pada tubuh, patah tulang, dan menurunnya fungsi fisik.
  2. Dampak yang berkaitan dengan masalah seksualitas dan reproduksi, seperti penularan penyakit seksual, kehamilan yang tidak diinginkan, dan lain sebagainya.
  3. Dampak psikologis yang dapat mengarah kepada gangguan kesehatan mental, diantaranya trauma, depresi, gangguan makan, gangguan tidur, cemas/takut yang berlebihan, gambaran diri yang buruk, ketakutan menjalin relasi dengan orang lain, merasa tidak berdaya dan menyalahkan diri (Millet, et.al., 2002).

Pemulihan secara psikologis menjadi sangat penting untuk mengatasi gangguan psikologis yang diderita oleh korban KDRT. Dan untuk membantu proses pemulihan, dibutuhkan tingkat resiliensi yang baik dari korban. Resiliensi adalah kapasitas yang dimiliki oleh individu untuk mengatasi situasi kekerasan atau kesengsaraan yang dialaminya termasuk bangkit untuk memulihkan diri dari keterpurukan yang dialami agar mencapai perkembangan diri yang optimal (Grotberg, 1995). Ada beberapa tips yang dapat diterapkan untuk meningkatkan resiliensi antara lain:

  1. Bangga pada diri sendiri
    Ketahuilah bahwa anda adalah seorang yang penting dan berbanggalah pada apapun yang dapat anda lakukan atau anda capai. Jangan biarkan orang lain meremehkan atau merendahkan diri anda. Ketika anda mempunyai masalah dalam hidup, kepercayaan diri dan self-esteem sangat membantu untuk dapat bertahan dan mengatasi masalah tersebut.
  2. Mencari hubungan yang dapat dipercaya
    Temukan seseorang yang anda percayai, misalnya orang tua, saudara, teman, sahabat, dan orang terdekat lainnya untuk meminta pertolongan bila anda berada dalam situasi kekerasan. Mereka adalah tempat untuk berbagi perasaan dan tempat berdiskusi mencari penyelesaian masalah yang terbaik untuk Anda.
  3. Jadilah pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab
    Anda adalah pribadi yang dapat memahami diri anda sendiri serta tahu apa yang dapat dan tidak dapat anda lakukan. Anda dapat secara mandiri menentukan keputusan yang ingin anda lakukan dan juga bertanggung jawablah dengan konsekuensi yang mungkin timbul dari keputusan yang anda ambil.
  4. Kendalikan diri anda dengan baik
    Anda dapat mengenali perasaan anda sendiri baik emosi positif maupun negatif yang anda rasakan. Ekspresikan perasaan/emosi anda dengan cara-cara yang dapat anda kendalikan sehingga tidak merusak orang lain maupun diri anda sendiri. 
Referensi
  • Grotberg, E. (1995). A Guide to Promoting Resilience in Children : StrengtheningThe Human Spirit. Benard Van Leer Fondation.
  • Loseke, D. R., Gelles, R. J., dan Cavanaugh, M.M. (2005). Current Controversies on Family. London : Sage Publications.
  • McCue, M.L. (2008). Domestic Violence : A Reference Handbook. California : ABC-CLIO, Inc.
  • Miller, T.W., Veltkamp, L.J., Lane T., Bilyeu, J., dan Elzie, N. (2002). Care Pathway
  • Guidelines for Assessment and Counseling for Domestic Violence. The Family Journal Counseling and Therapy for Couples and Families. Vol. 10 (1), pp. 41-48.
  • Walker, L.E. (1995). The Battered Woman. NewYork: Harper Perennial

Ditulis oleh: Stefani Virlia, S.Psi., M.Psi., Psikolog
Sumber gambar: People photo created by freepik – www.freepik.com

1 Comment. Leave new

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed