Resiliensi Keluarga Untuk Menghadapi Kedukaan

Setiap keluarga akan selalu mengalami konflik atau permasalahan, baik itu besar atau kecil. Hal tersebut bisa saja merusak keharmonisan keluarga bahkan sampai menyebabkan perpecahan. Salah satu rintangan yang dihadapi keluarga dan mungkin pernah teman-teman lihat atau alami adalah kehilangan anggota keluarga atau kedukaan.
Tanpa kita sadari ketika seseorang berduka ia akan mengalami penolakan kenyataan, kemarahan, menyalahkan orang lain, depresi, hingga akhirnya ia menerima kenyataan. Jadi bisa dibayangkan ya, bagaimana kondisi keluarga ketika baru saja kehilangan anggotanya. Keluarga akan memiliki emosi negatif, sensitif, dan rentan.
Walau begitu, hidup terus berjalan dan anggota keluarga yang ditinggalkan perlu melanjutkan kehidupan. Itu artinya, keluarga perlu move on untuk menyesuaikan diri dengan kondisi baru dengan syarat telah menerima kenyataan. Maka dari itu, resiliensi keluarga akan berperan penting bagi keluarga.
Mungkin kita belum begitu familiar ya dengan resiliensi keluarga. Jadi, apa itu resiliensi keluarga? Resiliensi keluarga merupakan perspektif atau proses yang berfokus pada kemampuan anggota keluarga untuk mengelola kekuatan bersama maupun secara individual ketika menghadapi masalah. Hal ini dilakukan guna menghindari hal-hal yang dapat mengancam keharmonisan keluarga dan mengembalikan kondisi keluarga seperti semula.
Ketika mengalami kedukaan hal pertama yang perlu keluarga sadari adalah tidak melarikan diri (flight) dan tidak melawan (fight) kehilangan atau kedukaan. Setiap anggota keluarga atau setiap individu pasti memiliki cara yang berbeda-beda untuk beradaptasi dengan kedukaan. Sehingga, pada tahap ini resiliensi keluarga menjadi penting di dalam keluarga dan juga sikap saling mendukung.
Resiliensi pada masa kedukaan menjadi penting karena meningkatkan keharmonisan dalam keluarga. Setelah kedukaan, keluarga biasanya berkomunikasi mengenai perasaan masing-masing, mencoba untuk memulihkan peran yang hilang, meningkatnya rasa kepemilikan, memiliki regulasi emosi dan problem solving yang baik, serta dapat melihat makna kehidupan secara positif. Setelah bangkit dan kembali lagi setelah masa kedukaan, anggota keluarga yang merasa kehilangan akan bisa kembali menjalani kehidupannya.
Daftar Pustaka
Patricia, G., Sahrani, R., & Agustina, A. (2018). Gambaran kedukaan pada perempuan dewasa madya Yang pernah mengalami kegagalan program in vitro fertilization. Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni, 2(1), 88. https://doi.org/10.24912/jmishumsen.v2i1.1670
Herdiana, I., Suryanto, D., & Handoyo, S. (2018). Family resilience: A conceptual review. Proceedings of the 3rd ASEAN Conference on Psychology, Counselling, and Humanities (ACPCH 2017). https://doi.org/10.2991/acpch-17.2018.9
Penulis: Sherly Yuriko Kato, Sheren Reggyna Herawan, Jessica, Grace Santosa
Sumber Gambar: https://unsplash.com/photos/owBcefxgrIE
Others
- Photovoice: From Introduction to Publication 2026 April 30, 2026
- Dekat Secara Fisik, Jauh Secara Emosi: Ketika Keluarga Tidak Lagi Terasa “Rumah” April 30, 2026
- Photovoice: Best Practice on Data Analysis and Publication January 24, 2026
- Prepare/Enrich Certified Facilitator Training & Case Study 2026 January 24, 2026
- Mengapa Gen Z cenderung tidak tertarik menikah? September 1, 2025

