4 Strategi KUAT Hadapi Krisis

Kehadiran Covid-19 telah menimbukan banyak perubahan dalam kehidupan dan kebiasaan kita. Mulai dari kebiasaan sekolah menjadi belajar dari rumah (Study from Home). Bekerja di kantor menjadi bekerja dari rumah (Work from Home). Pertemuan-pertemuan tatap muka yang penuh dengan cipika cipiki beralih dengan pertemuan via zoom. Perilaku cuci tangan meningkat. Travelling berkurang dan penggunaan masker juga meningkat.

Namun demikian kondisi Covid-19 tidak hanya mengubah kebiasaan perilaku kita. Perubahan-perubahan di atas banyak berdampak pada kondisi kesehatan, kondisi ekonomi, kondisi relasi dengan orang lain, serta menghadirkan ancaman-ancaman yang tidak jarang membuat kita menjadi tegang dan stres.

Holmes dan Rahe pada tahun 1967 telah membuat daftar peristiwa-peristiwa kehidupan yang mendatangkan stres karena peristiwa kehidupan tersebut membawa perubahan signifikan dalam hidup. Perubahan-perubahan yang terjadi akibat Covid-19, misalnya kematian anggota keluarga, pemutusan hubungan kerja, perubahan kondisi  bisnis dan keuangan, perubahan kebiasaan pribadi, jam kerja, juga berada dalam daftar yang dikemukakan oleh Holmes dan Rahe.

Karena itulah dalam situasi pandemi saat ini banyak di antara kita mengalami tanda-tanda kecemasan seperti tegang, cemas, gangguan konsentrasi, mudah terstimulasi secara emosional, marah-marah, ataupun juga  mengalami gangguan fisik seperti maag, diare, dan lainnya.

Sampai kapan kah situasi ini?

Kita semua tidak tahu kapankah kondisi Covid-19 ini akan berakhir. Karena itu, daripada mengambil sikap menanti tanpa kejelasan, maka kita perlu segera move on. Kita perlu mengambil langkah untuk menerima dan melangkah menghadapi perubahan. Kita perlu menjadi lentur menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi akibat Covid-19.

Strategi untuk KUAT

Beberapa tips penting untuk membuat diri kita tetap lentur (bahasa Psikologi: resiliensi) menghadapi perubahan adalah:

  • Keyakinan dan kepercayaan diri (confidence)
    Supaya kita bisa lentur, maka kita perlu membangun keyakinan dan kepercayaan diri. Untuk itu sangat diperlukan sikap dan cara berpikir yang positif dan optimis dalam menghadapi situasi. Dengan optimisme, kita akan lebih mampu beradaptasi lebih baik terhadap situasi-situasi yang negatif dalam kehidupan. Optimisme juga diperlukan untuk menolong kita belajar dari kesalahan dan tetap maju menghadapi masa depan.

    Optimisme ini sangat berkaitan dengan cara berpikir kita atau lensa kaca mata yang kita pakai dalam memandang situasi. Kalau kita menggunakan kaca mata hitam, maka semua akan nampak gelap. Kalau kita menggunakan kaca mata pink, semua akan nampak  pink. Karena itu perlu sekali kita menggunakan lensa kacamata yang positif dan optimis, sehingga emosi kita menjadi lebih positif.

    Contoh,  ketika kita Work from Home dan anak-anak Study from Home, kita bisa menggunakan kaca mata dengan lensa stres dan negatif, misalnya “waduh sekarang kerja di rumah, anak-anak belajar dari rumah, saya jadi tambah sibuk,  harus ngajar anak, repot banget!”. Dengan menggunakan lensa ini, maka yang muncul adalah emosi yang negatif yaitu perasaan kesal dan marah.

    Tetapi apabila kita menggunakan lensa yang positif, misalnya “wah sekarang saya jadi punya kesempatan bisa lebih dekat dengan anak, bisa kerja sambil temanin anak.” Tentu hal ini akan membuat perasaan kita lebih positif dan lebih nyaman.
  • Uluran tangan
    Salah satu cara untuk membuat kita resilien atau lentur, maka kita perlu membangun dukungan sosial. Hal ini dapat dilakukan dengan mengulurkan tangan menolong orang lain, dan menjulurkan tangan meminta bantuan orang lain. Dengan mengulurkan dan menjulurkan tangan, kita bisa membangun dukungan sosial yang dapat menguatkan kita menghadapi situasi krisis.
  • Adaptasi
    Ketika situasi berubah, cara lama mungkin sudah tidak bisa dipakai. Oleh karena itu kita perlu bersikap dan bertindak secara fleksibel. Kita perlu untuk mengembangkan cara baru bahkan juga belajar ketrampilan baru, supaya kita dapat  menghadapi masalah yang baru. Misalnya, sekarang semua pembelajaran dilakukan menggunakan zoom. Maka untuk saya bisa mendampingi anak saya, maka saya juga harus mau belajar menggunakan Zoom.

    Saya juga harus bersedia mengambil risiko dengan menggunakan cara yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Seandainyapun  nanti saya gagal, saya tetap dapat belajar dari kesalahan.
  • Tujuan
    Supaya kita kuat menghadapi krisis, kita tidak boleh berdiam diri dan menunggu. Sebaliknya kita harus segera menetapkan tujuan atau goal yang hendak dicapai untuk menghadapi kesulitan yang sedang berlangsung. Adanya tujuan atau goal akan menambah energi dan memotivasi kita untuk melangkah. Misalnya, dalam masa-masa pandemi ini penjualan di toko merosot tajam, sehingga kondisi keuangan kita menurun.  Dalam situasi tersebut, kita perlu untuk segera menetapkan goal terkait dengan peningkatan pendapatan kita. Selanjutnya kita membuat berbagai alternatif strategi untuk dapat meningkatkan pendapatan, dan mengambil langkah untuk melaksanakan strategi tersebut. Misalnya kita membuka toko online untuk menjual barang-barang kita, dan kita belajar bagaimana cara melakukan penjualan secara online.

Selamat mempraktekkan strategi KUAT menghadapi krisis!
Bangunlah Keyakinan dan kepercayaan diri, Ulurkan tangan, lakukan Adaptasi, dan buatlah Tujuan.

Referensi
  • Cooper, C.L., Flint-Taylor, J. & Pearn, M. (2013). Building resilience for success: A resource for managers and organizations. New York: Palgrave Macmillan

Ditulis oleh: Prof. Dra. Jenny Lukito Setiawan, M.A., Ph.D., Psikolog
Sumber Gambar: Design photo created by rawpixel.com – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed