Mengapa Gen Z cenderung tidak tertarik menikah?

Dalam satu dekade terakhir, Indonesia mengalami Penurunan Pernikahan Gen Z signifikan dalam jumlah pernikahan. Data Kompas (2023) mencatat bahwa jumlah pernikahan di Indonesia menurun drastis dari 2,21 juta pada tahun 2013 menjadi hanya 1,58 juta pada tahun 2023. Tren ini mengindikasikan adanya perubahan besar dalam cara generasi muda memandang pernikahan, yang dulunya dianggap sebagai tonggak utama dalam kehidupan orang dewasa.

Salah satu faktor utama yang melatarbelakangi penundaan menikah adalah kondisi finansial. Generasi muda, khususnya milenial dan Gen Z, menghadapi tantangan ekonomi yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan yang semakin tinggi, serta sulitnya memiliki rumah membuat banyak anak muda merasa belum siap secara finansial untuk membangun rumah tangga. Pernikahan, yang identik dengan pesta besar dan biaya tinggi, semakin dipandang sebagai beban ekonomi daripada sekadar perayaan kebahagiaan.

Selain itu, prioritas hidup yang berubah juga berperan besar. Pendidikan dan karir kini menjadi perhatian utama. Banyak anak muda memilih untuk melanjutkan studi hingga jenjang yang lebih tinggi atau fokus membangun karir sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. Dalam perspektif ini, pernikahan bukan lagi dipandang sebagai awal dari kemandirian, tetapi justru sebagai sesuatu yang memerlukan kesiapan matang baik secara emosional maupun finansial.

Penurunan Pernikahan di Indonesia ini juga tidak bisa dilepaskan dari pengaruh globalisasi dan urbanisasi. Hidup di kota besar menuntut fleksibilitas dan kemandirian. Pola pikir masyarakat urban yang lebih terbuka membuat pernikahan tidak lagi dianggap sebagai kewajiban sosial mendesak, melainkan pilihan personal. Hal ini berbeda dengan masyarakat pedesaan, di mana norma sosial masih menekankan pentingnya menikah pada usia muda.

Meski demikian, Penurunan Pernikahan Gen Z ini bukan tanpa dampak. Dalam jangka panjang, fenomena ini bisa memengaruhi struktur demografi Indonesia, termasuk angka kelahiran dan pertumbuhan penduduk. Pemerintah dan masyarakat perlu mencari strategi yang tepat, baik melalui kebijakan ekonomi yang mendukung generasi muda maupun melalui edukasi tentang pentingnya kesiapan pernikahan.

Pada akhirnya, Penurunan Pernikahan Gen Z mencerminkan dinamika sosial dan kultural yang sedang berlangsung. Bagi generasi muda, menikah bukan lagi sekadar mengikuti norma, melainkan keputusan besar yang harus diambil dengan penuh pertimbangan. Fenomena ini menunjukkan bahwa pernikahan di Indonesia sedang mengalami transformasi: dari kewajiban sosial menuju pilihan hidup yang lebih individual dan rasional.

Jony Eko Yulianto (Research Manager, Universitas Ciputra Marriage and Family Center)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed